Pendakian impian ke gunung rinjani 3.762 mdpl

Kena Begal di Medan | AGV #1
17 September 2017

Pendakian ini adalah salah satu destinasi travel yang masuk dalam bucket list saya, dari dulu pingin banget rasanya mendaki gunung hingga ke puncak, penasaran banget gimana rasanya to be on top of the world. Tapi aslinya saya bukan orang yang kerajinan banget sering naik turun gunung, karena itu saya cuma menentukan 1 tujuan yaitu “at least saya harus muncak di salah satu gunung yang paling indah di Indonesia”.

Sudah bertahun-tahun saya menunggu kesempatan ini, entah kenapa baru kejadian sekitar setahun setelah saya menaruh rinjani dalam visionboard saya, mungkin ada pengaruh hukum tarik menarik alam semesta, who knows? Pada suatu hari mendadak saudara saya Bryan WhatsApp, mau ke rinjani gak? dan kondisi saya pada waktu itu memang sedang sangat siap untuk mencari liburan. Sontak saya jawab “Yesss”, sayangnya pada saat keberangkatan, saudara saya malah tidak bisa ikut karena masih pemulihan cedera kakinya 🙁

Perjalanan dijadwalkan pada tanggal 5-8 Agustus 2017 mengikuti open trip dari Indonesia Archipelago yang entah bagaimana penyelenggaranya adalah teman SMP saya, Reyner, yang mana kami sudah tidak pernah ketemu hampir 14 tahun lamanya, so exciting! Perjalanan dimulai tanggal 4 menuju lombok dimana akhirnya saya bertemu dengan full team peserta di penginapan “Maria” yang terletak di desa Sembalun (sebuah desa di kaki gunung Rinjani), ada Andre, Sissy, Reyner, Dedy, Vivi, Vina, Sam, Albert, Meimei, Edo, Lugas, Fadil & Dean.

 

 

Pada tanggal 5 pagi, setelah sarapan, kami semua bergegas menuju pintu awal pendakian menggunakan mobil pickup. Setelah itu kami di briefing lalu berdoa bersama untuk memohon perlindungan Tuhan dan perjalanan pun dimulai! Awal-awal pendakian walau jalanan termasuk cukup landai, rasanya sangat melelahkan, mungkin karena tubuhnya belum terbiasa, ditambah terik matahari yang sangat menyengat karena medannya adalah savanna yang terbuka dan tidak ada pepohonan sama sekali. Dimulai pukul 09.00, setelah melewati berbagai savanna, bertemu dengan kawanan sapi, melewati pos 1, akhirnya sekitar jam 12.00 kami tiba di pos 2 dan beristirahat makan disana.

Disinilah pertama kalinya kami bertemu dengan porter rombongan, cukup kaget juga karena mereka jago-jago masaknya, bahkan menu siang itu ada pudding lengkap beserta fla-nya! Setelah makan dan ngobrol-ngobrol kami para peserta pun semakin akrab satu sama lain, perjalanan dilanjutkan menuju pos 3 dan kemudian tiba di “7 bukit penyesalan”. Namanya begitu horror karena dari yang sudah-sudah, biasanya mereka yang sudah pernah mendaki rinjani akan menyesal “ngapain yah gw naik gunung ini, harus menanjak medan perbukitan yang tidak habisnya.. setiap kali dikira sudah melewati 1 bukit, kok ada bukit lainnya dan tidak habis-habis..!?”

Harus diakui 7 bukit penyesalan ini memang ekstrim dan cukup berat, pijakannya kecil-kecil dan cukup curam.. Entah berapa kali saya berhenti untuk istirahat, beberapa teman kami bahkan mulai mengalami kram ketika mendaki. Ngos-ngosan berat rasanya! karena posisinya sudah cukup tinggi hingga kami sudah berada diatas awan, otomatis persediaan oksigen menipis dan udaranya pun sangat dingin… Hah, huh, hah, huh pantang menyerah, cape banget! Sekitar pukul 18.00 akhirnya kami sampai pada tujuan hari pertama yaitu Pelawangan Sembalun (tempat berkemah sebelum menuju Puncak, dengan pemandangan danau Segara Anak). Pertama kali tiba disana, gilaaaa bahagia banget! perasaan cape langsung ilang, lega dan amaze dengan view nya yang breathtaking itu. Tapi memang dingin banget disitu, terutama anginnya, brrrr….

 

 

Summit Attack, 6 Agustus 2017. Perjalanan dimulai dari dini hari jam 02.00, malam itu kami semua kurang tidur, mungkin hanya tidur 1-2 jam karena rombongan kami telat mendapatkan makan malam, sekitar jam 10-11 kalau tidak salah. Akhirnya tidak semua dari kami berangkat dan dari yang berangkat tidak semuanya sampai puncak. Memulai perjalanan pagi-pagi buta benar-benar melelahkan terutama karena badan kita shock, kurang istirahat tetapi dipaksa menanjak ketika cuaca sedang dingin-dinginnya dan angin berhembus kencang.

Boleh dibilang pendakian ini jauh lebih berat dibanding hari sebelumnya. Namun ada suatu pengalaman tersendiri ketika hanya dengan bermodalkan terang cahaya bulan, berada diatas ketinggian tertentu dan kami bisa melihat pemandangan jauh kedepan. Rasanya sungguh ajaib, sayangnya pemandangan ini tidak bisa tertangkap kamera karena terlalu gelap dan kita hanya dapat melihat bayangan-bayangan bukit dan awan ini dengan mata telanjang. Betul-betul bersyukur bisa merasakan pengalaman unik ini.

Dengan medan yang terbuka, di satu sisi jurang dan angin yang berhembus kencang, sungguh sial saat itu saya masuk angin dan bersusah payah harus menahan rasa sakit akibat diare. Belum lagi kondisi bebatuan kerikil yang membuat setiap kali kita naik 2 langkah, merosot 1 langkah, benar-benar curam dan berat sekali rasanya. Energi benar-benar habis, belum lagi harus menahan rasa sakit perut, akibatnya setiap lima langkah saya harus berhenti dulu untuk mengambil nafas. Sepanjang jalan ketika tanjakan terakhir mendekati puncak, saya terus berdoa dalam hati “ya Tuhan tolong kuatkan aku agar bisa tahan sampai Puncak” entah berapa puluh kali saya mengingatkan hal itu ke diri saya sendiri.

Setelah melewati momen sunrise dan melihat pemandangan ke arah danau yang sangat indah akhirnya sekitar jam 9.00 saya berhasil sampai di Puncak. Rasanya? sejujurnya saya sedang tidak bisa menikmati karena harus menahan rasa teramat sakit di perut, tapi tetap ada perasaan sangat puas. Sambil mencoba menikmati keindahan puncak, saya benar-benar merasakan penuh rasa syukur dan keyakinan diri karena telah berhasil mengalahkan ujian mental dan fisik ini. Pengalaman ini seakan mematri keyakinan saya bahwa “Kalau sudah bisa mengalahkan diri saya sendiri, pasti hal-hal lain pun bisa saya taklukkan”.

 

 

Setelah puncak, kami kembali ke camp di Pelawangan Sembalun dan beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke Danau Segara Anak untuk berkemah disana. Medannya cukup curam dan ekstrim tapi juga menyenangkan karena menuruni bebatuan yang menantang. Sampai sini, semakin banyak teman-teman saya yang cedera, ada yang di lutut, ada yang di pergelangan kaki, ada yang di jari-jari sehingga perjalanan menjadi agak lambat, tapi untungnya saya baik-baik saja. Berangkat jam 14.00 akhirnya kami tiba sekitar jam 18.00.

Beruntungnya, Rinjani adalah gunung dengan objek wisata terlengkap dan di dekat danau terdapat kolam pemandian air panas belerang. Barangkali ini adalah salah satu tempat yang paling enjoyable bagi kami. Rasanya benar-benar puas dan segar setelah 2 hari tidak mandi, kelelahan hiking dan kurang tidur, lalu berendam air panas. Cesss… Badan terasa sangat rileks dan bersih 😀 Selanjutnya kami menghabiskan malam di danau Segara Anak dengan pemandangan bintang-bintang yang terlihat jelas berdampingan dengan bulan purnama.

 

 

Esoknya kami melanjutkan perjalanan mendaki menuju puncak Pelawangan Senaru, sebelum kembali mengarah turun menuju Pos 2 Senaru. Namun tim kami mengalami sedikit masalah karena ritme perjalanan yang terlalu pelan (akibat banyak yang cedera) sehingga terpaksa harus menginap di Pos 3 Senaru sebelum hari menjadi terlalu gelap, sempat ada kekhawatiran tidak tersedianya sumber air di Pos 3 padahal stok air per-orang hanya kurang dari 500 ml hingga esok hari. Tapi untungnya setelah tiba, tidak jauh dari sana porter-porter kami menemukan sumber air. Ah.. lega, aman!

Pagi pun tiba dan saatnya kami melakukan perjalanan hari terakhir menuju pintu keluar di Senaru. Perjalanan berlangsung relatif lancar dan cepat, mungkin perpaduan antara medan turunan + semangat untuk segera mandi dan beristirahat di kasur yang empuk 😀 Tapi sebetulnya saya yakin ada sedikit rasa sedih dalam hati kecil setiap orang karena perjalanan yang memorable bersama teman-teman yang menyenangkan ini akan segera berakhir. Sekitar pukul 14.00, akhirnya kami semua tiba di Pintu Senaru dan perjalanan pendakian Rinjani ini officially berakhir dengan sukses…

For more photo check at my instagram @abonguing, don’t forget to follow and wait for my next adventure!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *